Tumbuhan Walikukun dan Harmoni Alam: Pengetahuan Lokal yang Menyelamatkan Warisan Tulungagung

 Oleh: Eni Setyowati

 

Tulungagung, sebuah kabupaten di Jawa Timur, kaya akan kekayaan alam dan budaya yang melekat erat dengan kehidupan masyarakatnya. Salah satu kekayaan alam yang sangat khas dan menjadi simbol kearifan lokal adalah tumbuhan endemik yang tumbuh di Perbukitan Walikukun. Tumbuhan ini tidak hanya menjadi bagian dari ekosistem alami, tetapi juga menyimpan pengetahuan dan nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Melalui literasi dan karya tulis, pengetahuan lokal tentang tumbuhan walikukun dan peranannya dalam kehidupan masyarakat Tulungagung dapat diabadikan dan dipertahankan, guna melestarikan warisan budaya dan lingkungan untuk generasi mendatang.

Perbukitan Walikukun di Tulungagung, yang dinamai sesuai dengan tumbuhan walikukun yang dahulu tersebar di lerengnya, merupakan kawasan dengan jejak peninggalan sejarah yang kaya, termasuk situs arkeologis dan peninggalan dari masa Hindu-Buddha hingga Islam. Kawasan ini menjadi pusat aktivitas religi dan budaya sejak abad ke-11 hingga ke-14, dengan adanya candi-candi dan makam kuno seperti Candi Dadi dan Makam Eyang Cokrokusumo. Tumbuhan walikukun yang tumbuh di sana menjadi lambang dari kelestarian alam sekaligus penanda jejak sejarah masyarakat setempat.

Perbukitan Walikukun sendiri adalah daerah yang secara ekologis penting, terdiri dari hutan heterogen yang didominasi oleh tumbuhan walikukun. Kondisi geografis dan ekosistem ini menjadi tempat belajar yang kaya bagi pengetahuan etnobotani, yakni ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan tumbuhan dalam konteks budaya. Pengetahuan tersebut semakin penting mengingat semakin terancamnya habitat alami akibat perkembangan dan perubahan lingkungan.

 

Tumbuhan Walikukun: Keunikan dan Karakteristik

Tumbuhan walikukun, secara ilmiah dikenal dengan nama Schoutenia ovata Korth., merupakan tumbuhan endemik yang hanya tumbuh di Pulau Jawa, termasuk di Tulungagung. Tumbuhan ini tergolong pohon kecil hingga sedang yang dapat mencapai tinggi hingga 25 meter. Batangnya berbentuk bulat dengan permukaan kulit kayu yang berwarna coklat keperakan dan menunjukkan kerak yang cukup khas. Daunnya berbentuk tunggal dengan tangkai daun dan helaian daun yang cukup sederhana namun memiliki keindahan alami.

Walikukun tumbuh subur di hutan-hutan tipe musiman dan sering ditemukan di dataran rendah yang panas dan kering, seperti hutan jati dan sabana, bahkan di tanah dengan kondisi kurang baik atau becek secara periodik. Tumbuhan ini memiliki akar tunggang bercabang yang kuat sekaligus mampu berkembang dari tunas akar. Usianya bisa sangat panjang; ada individu walikukun yang diperkirakan berumur lebih dari dua abad di kawasan makam Eyang Cokrokusumo di Perbukitan Walikukun, menandakan nilai ekologis dan historis yang luar biasa.

Tumbuhan walikukun bukan sekadar flora biasa; ia telah menjadi bagian dari mitos, kepercayaan, dan praktik budaya masyarakat Tulungagung. Sekilas, hubungannya tampak sederhana sebagai tanaman yang memberikan bahan kayu berkualitas, namun lebih dari itu, tumbuhan ini menyimpan nilai-nilai simbolik dan spiritual.

Masyarakat setempat meyakini bahwa menanam pohon walikukun di pekarangan rumah membawa perlindungan gaib, menjaga keselamatan keluarga dan rumah dari pengaruh buruk. Kepercayaan ini merupakan bagian dari tradisi lisan dan primbon Jawa yang hidup secara turun-temurun. Selain itu, keberadaan tumbuhan walikukun di perbukitan juga mencerminkan harmoni manusia dengan alam, sebagai manifestasi kearifan lokal dalam menjaga ekosistem dan keberlangsungan hidup.

Tumbuhan walikukun menjadi bagian dari identitas Tulungagung yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Melalui tumbuhan ini, masyarakat menghormati leluhur dan tradisi, serta memperkuat keterikatan dengan lingkungan alam mereka. Keberadaannya yang erat dengan situs keagamaan dan budaya menjadikan tumbuhan walikukun sebagai simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

 

Mengabadikan Pengetahuan Melalui Literasi

Mengabadikan pengetahuan lokal tentang tumbuhan walikukun melalui karya tulis adalah langkah strategis untuk melestarikan budaya dan lingkungan sekaligus meningkatkan literasi masyarakat. Literasi di sini tidak terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga pada pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai lokal dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui penelitian, dokumentasi, dan tulisan populer, masyarakat, pelajar, dan akademisi dapat mengembangkan ragam literasi tentang walikukun, antara lain: (1) Literasi sejarah dan budaya: menulis cerita rakyat, mitos, dan kepercayaan yang berkaitan dengan tumbuhan walikukun sebagai bagian dari identitas budaya Tulungagung; (2) Literasi ekologi dan sains: mendokumentasikan morfologi, habitat, dan manfaat ekologis walikukun, serta peranannya dalam menjaga keseimbangan hutan dan kehidupan satwa liar; (3) Literasi kesehatan dan pemanfaatan: menggali pengetahuan pemanfaatan kayu, kulit, daun walikukun secara tradisional dan modern, misalnya sebagai bahan perkakas atau ritual; dan (4) Literasi lingkungan dan pelestarian: menginisiasi kampanye dan edukasi mengenai pentingnya konservasi tumbuhan endemik dan hutan perbukitan sebagai warisan berkelanjutan.

Pengembangan literasi ini membuka ruang dialog antara generasi muda dan tua, antara pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal. Dengan karya tulis berbasis literasi, tumbuhan walikukun tidak hanya hidup sebagai makhluk alam, melainkan juga menjadi inspirasi yang hidup di pena para penulis dan aktivis budaya.

 

Peran Institusi dan Komunitas dalam Pelestarian

Untuk mengantisipasi hilangnya warisan nilai dan degradasi lingkungan, peran institusi pendidikan, pemerintah daerah, dan komunitas lokal sangat vital. Sekolah-sekolah di Tulungagung dapat mengintegrasikan pengetahuan tentang tumbuhan walikukun ke dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam dan sosial, sekaligus mendorong siswa untuk membuat karya tulis kreatif terkait.

Komunitas lingkungan dan budaya dapat menyelenggarakan seminar, workshop, dan pameran literasi tentang tumbuhan endemik serta kearifan lokal yang mengitarinya. Dokumentasi berupa buku, artikel, video dokumenter, dan media digital harus didorong agar pengetahuan ini tersebar luas dan mutakhir.

Pemerintah daerah sudah mengambil langkah konservasi dengan menempatkan Perbukitan Walikukun sebagai kawasan lindung dan memperkuat peraturan pelestarian hutan. Namun, hasil nyata dari pelestarian ini akan kuat apabila diimbangi dengan pelibatan aktif masyarakat dan penguatan literasi budaya.

Dari keheningan hutan Perbukitan Walikukun, tumbuhan endemik yang telah bertahan ratusan tahun menjadi saksi bisu perjalanan budaya dan alam Tulungagung. Dengan pena dan literasi, pengetahuan lokal yang terkandung dalam tumbuhan ini dapat diabadikan, dilestarikan, dan dijadikan pijakan penting dalam menjaga kelestarian alam dan budaya. Pendekatan ini tidak hanya menghormati warisan nenek moyang, tetapi juga menjawab kebutuhan generasi masa kini dan masa depan untuk hidup harmonis dengan alam serta menjaga identitas lokal yang kaya makna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Baru! Pembukaan Magang Mahasiswa FTIK UIN SATU Tulungagung di SMPN 1 Tulungagung

Petualangan Minggu di Gunung Budeg: Menyatu dengan Alam di Kabupaten Tulungagung

“TIADA JALAN TANPA DEBU, TIADA KESUKSESAN TANPA DOA ISTRI DAN IBU” (Sebuah catatan untuk suami dan anak-anakku)