SOCRATES vs PROF. NGAINUN NAIM: SANG BIDAN INTELEKTUAL
Oleh: Eni Setyowati
Profesor adalah gelar akademik tertinggi yang
dimiliki oleh dosen. Karena gelar akademik tertinggi, tentunya banyak sekali
kewajiban-kewajiban yang harus diemban oleh seseorang setelah menjadi profesor
atau guru besar. Menjadi profesor adalah langkah besar baik dalam hal status
dan keamanan pekerjaan, dimana menuju jabatan profesor itu melalui jalan yang
panjang dan berliku. Gelar profesor begitu prestisius, tatkala ia mulai dianggap
sebagai cerminan keberhasilan sebuah lembaga keilmuan. Bagi saya, sudah
selayaknya Prof. Naim memeperoleh gelar akademik tertinggi tersebut. Beliau
adalah pengajar yang menginspirasi banyak orang. Beliau adalah pendidik yang
ngemong, semoga sampai kini pun akan menjadi profesor yang ngemong, bukan
diemong. Sehat selalu Prof….Aamiin.
Prof. Naim dan Socrates, mengapa saya
menganalogikannya begitu? Karena menurut saya, terdapat beberapa sisi kesamaannya.
Socrates adalah ilmuwan terkenal. Siapa yang tak mengenal beliau? Guru dari
Plato ini dikenal sebagai bidan intelektual yang membantu orang lain untuk
melahirkan idenya sendiri dan menguji ide itu. Socrates percaya bahwa manusia
mempunyai sumber daya pengetahuan yang terkubur di dalam dirinya. Yang
dibutuhkan adalah orang yang membantunya keluar dari pengetahuan yang
tersembunyi tersebut. Bahkan karena idenya itu, Socrates harus di bawa ke
pengadilan dan dieksekusi, yang dituduh meracuni pemikiran generasi muda. Dalam
bukunya The Republic yang ditulis oleh Plato, banyak sekali ide dari
Socrates. Baginya, ada empat karakteristik dalam negara yang adil, yaitu kebijaksanaan,
keberanian, disiplin, dan keadilan. Terkait dengan ide Socrates ini, seorang
profesor dapat menjadi kekuatan moral dan intelektual di dalam masyarakat.
Tentunya apa yang saya sampaikan tentang Socrates di atas, tak jauh berbeda dengan
Porf. Naim. Prof. Naim adalah guru besar yang selalu membatu orang lain untuk
menggali ide, yang juga sebagai bidan intelektual sebagaimana Socrates.
Selama 15 tahun menjadi kolega Prof. Naim,
banyak sekali wejangan-wejangan yang beliau sampaikan baik secara langsung
maupun tak langsung. Wejangan beliau sangat mengena dan menginspirasi, dan kini
telah beliau tunjukkan melalui apresiasi yang sangat besar dengan keluarnya SK
beliau sebagai guru besar. Anugerah dari perjuangan yang luar biasa. Selamat
Prof…semoga sehat dan sukses selalu.
Tak ingat, kapan wejangan itu beliau
sampaikan, mungkin dalam acara resmi ataupun dalam kegiatan non resmi, baik
secara lisan maupun tulisan. Namun, beliau selalu menyampaikan hal-hal yang
selalu menginspirasi. Beliau adalah orang yang bisa memetik hasil bukanlah yang
mengeluarkan banyak tenaga, bekerja keras, dan menghabiskan banyak waktu,
tetapi cepat berhenti di tengah jalan. Namun, justru beliau adalah yang
walaupun hanya mampu melakukan yang sedikit, kemudian perlahan, tetapi tidak
kunjung berhenti. Tentu yang seperti inilah yang akan bisa sampai ke titik
keberhasilan, yang akan tiba di puncak. Seperti itu pula jalan kesuksesan, ia
tidak seperti jalan tol yang batas hambatan, jalan kesuksesan senantiasa
berliku dan bergelombang. Dengan hambatan itulah kita akan diuji, baik dari
segi mental, kekuatan, kecermatan berpikir ataupun kejelian mengambil keputusan.
Itu pula yang menyebabkan tidak banyak orang yang mampu melaluinya. Karena ia
hanya menyisakan orang-orang yang tangguh. Salah satunya adalah Prof. Naim.
“Salah
satu penghalang besar yang kadang menjadikan kita jauh dari menggali potensi
diri yang ada adalah terlalu banyak beralasan. Ketika diberikan kesempatan atau
mungkin tantangan hingga peluang, kalimat sederhana yang paling logis adalah, “Oh
maaf, saya tidak bisa.” Kalimat itu sering dilontarkan oleh Prof. Naim. Memang benar
adanya, hampir setiap orang pernah mengalaminya, dan itu merupakan tamparan
buat saya, yang selalu banyak alasan untuk melakukan sesuatu.
Manusia adalah sosok yang paling sempurna
ciptaan Tuhan, namun sangat disayangkan hanya sebagian kecil saja potensi yang
digunakan. Sisanya terus terpendam hingga kita masuk ke liang lahat. Alangkah
ruginya hidup ini ketika anugerah yang ada sama sekali tidak digunakan untuk
menunjang kehidupan kita. Tidak digunakan untuk menyongsong masa depan kita.
Lagi-lagi salah satu penghalang besar yang kadang menjadikan kita jauh dari
menggali potensi diri, adalah karena terlalu banyak beralasan. Dengan berbagai
alasan ketidakmampuan, padahal kita belum mencoba. Itu hanyalah pembenaran yang
dibenar-benarkan dan sebuah alasan yang dibuat-buat.
“Tidak ada hasil tanpa ada pengorbanan. Jika
menginginkan hasil besar maka pengorbanan harus besar pula.” Kalimat di atas, juga
sering disampaikan oleh Prof. Naim. Dalam hidup tidak ada yang instan. Mi
instan yang jelas-jelas instan saja tetap butuh proses ketika hendak dinikmati.
Dalam berusaha pun demikian, jalan menuju kesuksesan tidaklah selalu mudah. Ada
banyak tahapan yang telah Allah siapkan untuk kita lalui. Semua tahapan itu
akan mendewasakan kita dan menjadikan kita layak untuk berada pada proses
berikutnya. Sebuah anak tangga menuju titik kegemilangan.
Hidup adalah pendakian prestasi mengumpulkan
sukses kecil menuju sukses besar. Itulah titik kemajuan dan pencapaian yang
bisa kita dapatkan. Bahwa perubahan besar selalu membutuhkan kerja besar pula. “Jika
hidup hanya sekedar hidup, kera di hutan juga hidup. Jika bekerja hanya sekedar
bekerja, kerbau di sawah juga bekerja.” Kalimat inipun pernah saya
dengar dari Prof. Naim.
“Bukan hanya sekedar menanti, tetapi juga
mempersiapkan diri. Jika dirasa sudah pantas, tentu Allah akan membukakan jalan,
mempertemukan dengan sang idaman yang lama dirindukan.” Yang harus kita lakukan
adalah menyiapkan wadah yang besar sehingga volume untuk menerima jatuhnya
hujan juga lebih besar. Maka, hasilnyapun bisa dipastikan kita dapat mengumpulkan
air yang lebih banyak. Kini, saatnya berhenti hanya sekedar berangan-angan.
Waktunya mengubah pola pikir dan pola kerja. Membenahi kualitas hidup untuk
hasil yang selama ini kita harapkan. Jika ingin hasil maksimal, maka ikhtiar
serta doa juga mesti maksimal. Ada sekian makna dari sederet langkah yang telah
ditempuh. Allah pasti tahu, kapan antara harapan dan keinginan itu
dipertemukan.
“Yang menjadi kewajiban kita adalah terus
bekerja. Perkara hati dan niat biarlah Allah yang menilai. Sebab ukuran keikhlasan
itu tidak bisa dinilai hanya dengan ucapan-ucapan lisan semata.” Kadangkala dalam
melakukan sesuatu, kita sudah yakin bawa itu adalah sesuatu yang baik dalam
kacamata kita dan Allah. Namun, di sisi lain justru terkadang mendapat komentar
dari orang lain. Kemudian, seketika itu niat awal yang baik menjadi berubah.
Bahkan langkah menjadi terhenti, padahal itu baru sebuah cibiran, yang belum
tentu bernilai positif. Bisa jadi ia malah sebaliknya. Terkadang apa yang orang
lain bicarakan terhadap apa yang kita lakukan tidaklah penting. Selama yang
kita kerjakan itu tidak menyimpang dari nilai-nilai dan norma yang ada. Memang
sulit untuk bisa sama dan sesuai dengan semua kemauan orang. Lantas apakah kita
akan berpaku pada perkataan dan kemauan mereka? Intinya, selama didasari dengan
niat yang lurus, tulus dan ikhlas karena Allah, apapun itu, komentar orang kita
abaikan saja. Amalan yang kita lakukan akan dinilai dan dipersembahkan kepada
Allah, bukan manusia.
Akhirnya, terimakasih atas
wejangan-wejangannya selama ini. Terimakasih kepada bidan intelektual dari UIN
SATU.
Komentar
Posting Komentar